Panjul mulai sering datang ke taman kampus pada jam yang sama, meski ia tidak pernah secara sadar mengakuinya. Ia akan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa bangku itu nyaman, bahwa udara sore di sana lebih ringan, bahwa ia hanya kebetulan lewat.

Padahal ia menunggu.

Rena tidak selalu datang. Dan setiap kali ia tidak ada, Panjul merasa sedikit kecewa pada dirinya sendiri karena berharap. Ia membenci perasaan itu—perasaan menggantungkan sesuatu pada orang lain tanpa izin.

Suatu sore, Rena datang lebih awal. Ia mengangkat tangan kecil-kecilan saat melihat Panjul mendekat.

“Kupikir kamu nggak datang hari ini,” katanya.

“Oh,” Panjul tersenyum kikuk. “Aku… biasanya lewat sini.”

Biasanya.
Kata itu terdengar seperti kebohongan kecil, tapi Rena tidak menertawakannya.

Mereka duduk berdampingan seperti sebelumnya. Tidak selalu berbicara. Kadang hanya membaca, kadang menatap mahasiswa lain berlalu-lalang. Tapi kehadiran satu sama lain mulai terasa wajar, seperti kebiasaan baru yang terbentuk tanpa perjanjian.

“Jurusan kamu apa?” tanya Rena suatu hari.

Panjul menyebutkan jurusannya, lalu cepat-cepat menambahkan, “Kamu?”

Rena menyebutkan jurusan yang berbeda. Nadanya santai. Tidak ada kebanggaan berlebihan. Tidak ada keluhan. Panjul menyukai cara Rena berbicara—seolah hidup adalah sesuatu yang bisa dijalani tanpa terlalu banyak beban.

“Kamu kelihatan pendiam,” kata Rena, bukan sebagai kritik.

Panjul tertawa kecil. “Iya. Dari dulu.”

“Capek nggak?”

Pertanyaan itu membuat Panjul terdiam. Ia tidak pernah berpikir bahwa diam bisa melelahkan.

“Kadang,” jawabnya jujur.

Rena mengangguk, seolah mengerti lebih dari yang Panjul katakan.

Hari-hari mereka mulai dipenuhi hal-hal kecil. Berbagi catatan kuliah. Mengeluh soal tugas. Minum kopi murah di kantin. Semua terasa ringan karena tidak pernah dibicarakan ke mana arahnya.

Teman-teman Rena mulai mengenal Panjul. Menyapanya. Mengajaknya bicara. Panjul selalu tersenyum, menjawab seperlunya, lalu kembali ke keheningannya sendiri.

“Kamu sama Panjul kelihatan cocok,” kata salah satu teman Rena suatu kali.

Panjul mendengar kalimat itu, tapi Rena hanya tertawa.

“Kita teman,” katanya cepat.

Panjul ikut tertawa.
Padahal ada sesuatu di dadanya yang terasa turun sedikit.

Teman.

Kata itu aman.
Tapi juga batas.

Malam itu, Panjul berbaring di kamarnya, menatap langit-langit. Ia mengulang percakapan hari itu berulang-ulang. Mencari celah, mencari kesempatan yang mungkin terlewat.

Ia tahu ia menyukai Rena. Perasaan itu tidak rumit. Tidak dramatis. Hanya keinginan sederhana untuk berada di dekat seseorang tanpa harus berpura-pura.

Tapi setiap kali ingin bicara lebih jauh, pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.

Bagaimana kalau Rena tidak merasa sama?
Bagaimana kalau suasana menjadi canggung?
Bagaimana kalau ia kehilangan satu-satunya tempat nyaman di kampus?

Panjul memilih aman.
Selalu aman.
Suatu malam, Rena mengirim pesan lebih dulu

“Lagi apa?”

Panjul menatap layar lama. Jari-jarinya kaku. Ia membalas dengan kalimat singkat, lalu menyesal karena terlalu singkat. Ia mengetik ulang, menghapus, mengetik lagi.

Percakapan mereka mengalir pelan. Tidak intens. Tapi cukup untuk membuat Panjul

“Besok ke taman lagi?”
“Iya, kalau kamu mau.”

Kalimat itu terdengar netral. Tapi bagi Panjul, itu adalah undangan kecil yang terasa besar.

Keesokan harinya, Rena datang dengan wajah lelah.

“Aku capek,” katanya sambil menjatuhkan tas.

Panjul ingin bertanya kenapa. Ingin menawarkan bantuan. Tapi yang keluar hanya, “Oh.”

Rena menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kamu emang pendengar yang baik, Jul.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi entah kenapa, Panjul merasa seperti baru saja diberi peran yang akan sulit ia tinggalkan.

Pendengar.
Bukan orang yang bicara.
Bukan orang yang memilih.

Malam itu, Panjul menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah:
ia mulai menggantungkan kebahagiaannya pada momen-momen kecil yang tidak pernah ia pastikan arahnya.

Ia berdiri di persimpangan yang sama seperti sebelumnya.
Bicara atau diam.
Maju atau menunggu.

Dan seperti biasa, Panjul memilih menunggu.

Ia tidak tahu bahwa menunggu bukan berarti waktu berhenti.
Waktu hanya berjalan—tanpa dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!