“PANJUL DAN KEBIASAAN DIAM”
Panjul terbiasa bangun lebih pagi dari orang lain, bukan karena rajin, tapi karena tidur tidak pernah benar-benar nyenyak. Ia selalu terbangun dengan perasaan seolah ada sesuatu yang harus dilakukan, meski ia tidak tahu apa. Seperti alarm batin yang berbunyi tanpa pesan.
Di kamar sempit itu, Panjul duduk di tepi kasur sambil menatap lantai. Cahaya pagi masuk dari celah jendela, menyinari sepatu sekolahnya yang sudah mulai pudar. Ia tidak bergerak selama beberapa menit—kebiasaan kecil yang tak pernah disadarinya. Menunda. Diam. Menunggu.
Ibunya sering bilang,
“Panjul itu anak baik, nurut, nggak neko-neko.”
Dan Panjul selalu mengangguk mendengarnya.
Ia tidak pernah tahu bahwa “baik” kadang hanya kata lain dari tidak berani menolak.
Di sekolah, Panjul bukan siapa-siapa. Nilainya cukup. Tidak menonjol. Tidak bermasalah. Guru jarang menyebut namanya kecuali saat absensi. Teman-temannya mengenalnya, tapi tidak benar-benar tahu siapa Panjul.
Ia duduk di bangku tengah, baris keempat. Posisi aman. Tidak terlihat, tapi juga tidak sepenuhnya hilang.
Ketika teman-temannya sibuk membicarakan masa depan—kuliah, kerja, mimpi—Panjul hanya mendengarkan. Bukan karena tidak punya mimpi, tapi karena setiap kali ingin bicara, dadanya terasa sesak. Seolah kata-kata itu terlalu besar untuk keluar dari mulutnya.
“Aku ikut kamu aja,”
kalimat itu menjadi pelarian favoritnya.
Ketika ditanya mau masuk jurusan apa, Panjul berkata begitu.
Ketika ditanya mau ikut organisasi atau tidak, Panjul berkata begitu.
Ketika hatinya mulai menyukai seseorang, Panjul… tidak berkata apa-apa.
Ia pikir diam adalah cara paling aman untuk tidak salah.
Ia tidak tahu bahwa diam juga bisa menghancurkan pelan-pelan.
Hari pengumuman kelulusan datang tanpa perayaan di hati Panjul. Ia melihat teman-temannya tertawa, berteriak, memeluk masa depan. Panjul tersenyum kecil, berdiri di antara mereka, merasa seperti tamu di hidupnya sendiri.
Malam itu, ayahnya bertanya dengan nada sederhana,
“Kamu jadi ambil jurusan itu ya, Jul?”
Panjul ingin bilang tidak.
Ingin bilang ia ragu.
Ingin bilang ia takut salah jalan.
Tapi yang keluar hanya satu kata:
“Iya.”
Dan di situlah—tanpa suara, tanpa drama—
hidup Panjul mulai melenceng sedikit dari jalurnya.
Sedikit saja.
Hampir tak terasa.
Tapi cukup untuk mengubah segalanya.
