Panjul menyadari perubahan itu bukan dari sesuatu yang besar, melainkan dari hal-hal kecil yang mulai bergeser. Bangku taman yang biasanya terasa pas kini terasa sedikit lebih sempit. Waktu yang biasanya terasa cukup kini seperti selalu kurang.
Rena masih datang. Masih tersenyum. Masih duduk di sampingnya. Tapi ada jeda-jeda baru yang tidak Panjul pahami.
Suatu sore, Rena datang bersama seseorang.
“Jul, ini Dimas,” kata Rena. “Satu jurusan sama aku.”
Dimas mengulurkan tangan dengan senyum yang mudah. Terlalu mudah, pikir Panjul. Senyum orang yang terbiasa diterima.
“Oh, Panjul,” jawab Panjul sambil menjabat tangannya singkat.
Dimas duduk di bangku yang sama. Terlalu dekat. Terlalu percaya diri. Ia berbicara tanpa ragu, tertawa keras, bercerita tentang kelas, dosen, rencana organisasi.
Rena menanggapi dengan antusias. Sesekali menoleh ke Panjul, seolah mengajak ikut masuk dalam percakapan. Tapi Panjul hanya tersenyum kecil, mengangguk, kembali ke perannya sebagai pendengar.
Ia ingin masuk.
Ia ingin bicara.
Tapi kata-kata itu kembali terasa berat.
“Aku duluan ya,” kata Panjul akhirnya, berdiri lebih cepat dari yang ia rencanakan.
Rena menatapnya sedikit heran. “Eh, iya… hati-hati.”
Dimas melambaikan tangan santai. “Sampai ketemu lagi, Jul.”
Panjul mengangguk dan pergi. Langkahnya cepat, seolah ada sesuatu yang mengejarnya dari belakang.
Sejak hari itu, Dimas sering ada. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuat Panjul merasa asing di tempat yang dulu terasa aman.
Dimas berbeda dari Panjul dalam hampir semua hal. Ia bicara tanpa takut salah. Ia tertawa tanpa menahan diri. Ia tidak ragu mengajak Rena ke mana-mana—makan, belajar, sekadar berjalan sore.
Panjul mendengar semua itu dari Rena, yang bercerita tanpa maksud menyakiti.
“Dimas lucu ya,” kata Rena suatu kali. “Ribet tapi seru.”
Panjul tertawa kecil. “Iya.”
Ia ingin bertanya: kamu suka dia?
Tapi pertanyaan itu tidak pernah keluar.
Sebaliknya, Panjul mulai jarang datang ke taman. Bukan karena tidak ingin bertemu Rena, tapi karena tidak ingin melihat sesuatu yang tidak siap ia terima.
Ia menyebutnya memberi ruang.
Padahal ia sedang mundur.
Suatu malam, Panjul duduk di kamarnya, menatap ponsel yang tidak berdering. Ia membuka percakapan terakhir dengan Rena. Tidak ada yang salah. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kata perpisahan.
Hanya jarak yang tumbuh perlahan.
Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan:
Rena tidak pernah menjauh darinya.
Ia sendiri yang melangkah mundur, setapak demi setapak.
Dan seperti semua kebiasaan buruk yang disamarkan sebagai kebaikan, Panjul meyakinkan dirinya bahwa ini yang terbaik.
Untuk Rena.
Untuk dirinya.
Beberapa hari kemudian, Rena mengajaknya bicara.
“Kamu kenapa, Jul? Aku ngerasa kamu beda.”
Panjul menunduk. Inilah momen itu. Momen yang selalu datang dalam hidupnya—momen ketika satu kalimat jujur bisa mengubah banyak hal.
Ia membuka mulut.
Menutupnya lagi.
“Nggak apa-apa,” katanya akhirnya. “Cuma capek.”
Rena menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang Panjul tidak bisa baca. Kecewa, mungkin. Atau lelah.
“Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa,” kata Rena pelan. “Aku cuma pengin kamu jujur.”
Panjul mengangguk.
Ia selalu mengangguk.
Malam itu, Panjul berjalan pulang sendirian. Lampu jalan memantulkan bayangannya yang memanjang di aspal. Ia berhenti sejenak, menatap bayangan itu.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Berapa banyak hal yang sudah kulepas hanya karena aku takut bicara?
Ia tidak tahu jawabannya.
Yang ia tahu, rasa kehilangan itu mulai terasa—meski belum sepenuhnya terjadi.
Dan yang paling menyakitkan:
ia tahu, jika ini semua berakhir, tidak akan ada siapa pun yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.
