Jatuh, Bangun, Jatuh Lagi, Bangun Lagi: Luka yang Diam-Diam Membentuk Kita

Ada fase dalam hidup ketika kita jatuh begitu dalam sampai kita tidak tahu bagaimana caranya berdiri kembali. Bukan jatuh yang dramatis, bukan pula yang terlihat oleh banyak orang. Tapi jatuh yang sunyi. Jatuh yang hanya kita rasakan sendiri, ketika dada terasa sesak tanpa sebab yang bisa dijelaskan, ketika senyum terasa berat, dan ketika malam menjadi terlalu panjang untuk dilalui.


Pada saat itu, hidup terasa tidak adil. Kita sudah berusaha. Kita sudah berdoa. Kita sudah menahan diri agar tetap kuat. Namun tetap saja, kita jatuh. Rasanya seperti dunia terus berjalan sementara kita tertinggal di satu titik yang gelap. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pelukan, hanya pertanyaan yang berulang di kepala: “Kenapa harus aku?”


Jatuh selalu melukai harga diri. Ia membuat kita meragukan kemampuan sendiri, bahkan meragukan nilai diri kita sebagai manusia. Kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain yang tampaknya lebih berhasil, lebih bahagia, lebih utuh. Kita bertanya-tanya apakah kita memang kurang, atau memang tidak pantas mendapatkan hidup yang tenang.


Dan di titik paling rendah itu, sering kali kita menangis sendirian. Tangisan yang tidak diposting, tidak diceritakan, tidak dimengerti siapa pun. Tangisan yang hanya ingin satu hal sederhana: agar rasa sakit ini berhenti.


Namun hidup jarang memberi kita kemewahan itu.


Bangun dari kejatuhan bukanlah momen heroik seperti dalam film. Tidak ada musik latar. Tidak ada cahaya terang. Bangun sering kali hanya berarti membuka mata di pagi hari meski kita berharap tidak bangun sama sekali. Bangun berarti tetap menjalani hari meski hati terasa kosong.

Bangun berarti berpura-pura baik-baik saja karena dunia tidak menunggu kita sembuh.
Dan itu melelahkan. Sangat melelahkan.


Ada hari-hari ketika bangun terasa seperti hukuman. Ketika kita bertanya, “Untuk apa aku bangun kalau aku akan jatuh lagi?” Tapi entah bagaimana, kita tetap melakukannya. Mungkin karena naluri bertahan hidup. Mungkin karena masih ada secuil harapan yang menolak mati. Atau mungkin karena kita belum siap menyerah sepenuhnya.


Lalu, tepat ketika kita mulai merasa sedikit lebih kuat sedikit lebih tenang kita jatuh lagi. Dan kejatuhan kali ini terasa lebih kejam.


Karena kita pikir kita sudah belajar. Kita pikir kita sudah lebih hati-hati. Kita pikir kita sudah cukup kuat. Tapi ternyata tidak. Jatuh yang kedua, ketiga, atau kesekian kalinya membuat luka lama terbuka kembali. Bahkan lebih sakit, karena kini ada rasa kecewa pada diri sendiri.


“Aku ini bodoh ya? Kenapa selalu jatuh di tempat yang sama?”


Di titik ini, banyak orang menyerah. Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka terlalu lelah. Terlalu sering berharap, terlalu sering bangkit, terlalu sering hancur. Ada kelelahan yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan tidur atau liburan. Kelelahan yang bersarang di jiwa.


Namun justru di sinilah penempaan diri benar-benar terjadi.


Bangun lagi setelah jatuh berkali-kali bukan lagi tentang ambisi. Bukan tentang pembuktian. Bukan tentang ingin terlihat kuat. Bangun kali ini adalah tentang kejujuran. Mengakui bahwa kita lelah. Mengakui bahwa kita takut. Mengakui bahwa kita tidak sekuat yang orang kira namun tetap memilih untuk hidup.


Bangun lagi adalah keputusan paling sunyi yang pernah dibuat seseorang.
Tidak ada yang tahu betapa berat langkah itu. Tidak ada yang tahu berapa banyak doa yang diucapkan dalam hati. Tidak ada yang tahu berapa kali kita hampir menyerah, lalu menahan diri hanya karena satu alasan kecil: “Kalau bukan hari ini, mungkin besok bisa sedikit lebih baik.”


Dalam siklus jatuh dan bangun ini, kita berubah. Kita tidak menjadi manusia yang kebal terhadap rasa sakit. Justru sebaliknya, kita menjadi lebih peka. Kita lebih memahami luka orang lain. Kita lebih berhati-hati dalam menilai. Kita belajar bahwa setiap orang sedang membawa beban yang tidak terlihat.


Penempaan diri tidak membuat kita sempurna. Ia membuat kita jujur. Jujur bahwa hidup tidak selalu baik. Jujur bahwa kita pernah hancur. Jujur bahwa kita masih membawa luka—dan itu tidak apa-apa.


Kita belajar bahwa kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis. Kekuatan adalah tetap melangkah meski air mata belum kering. Kita belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah bergerak meski takut masih menggenggam hati.


Dan suatu hari nanti, tanpa kita sadari, kita akan melihat ke belakang. Melihat semua jatuh yang pernah kita alami. Semua bangun yang terasa mustahil. Dan kita akan menyadari satu hal: kita masih di sini.
Bukan karena hidup menjadi lebih mudah, tapi karena kita menjadi lebih kuat dalam cara yang sunyi.


Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi bukanlah kutukan. Ia adalah proses panjang yang membentuk jiwa. Jika hari ini kamu sedang jatuh, ketahuilah: kamu tidak gagal. Kamu sedang ditempa. Dan jika hari ini kamu hanya mampu bertahan, itu sudah lebih dari cukup.


Karena terkadang, bertahan adalah bentuk keberanian tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!